Cari Blog Ini

Renungan harian

Renungan harian
Renungan Harian

Minggu, 10 Juli 2011

Kerongkongan Sintetik Pertama Dibuat

2011/07/kerongkongan-sintetik-pertama-dibuat.html
sumber: kompas.com
sumber link: http://m.kompas.com/health/read/2011/07/09/13233477/kerongkongan-sintetik-pertama-dibuat


Kompas.com - Para ahli bedah di Swedia berhasil melakukan

transplantasi organ sintetik pertama di dunia. Organ tersebut adalah kerongkongan artifisial yang dilapisi dengan sel punca dari pasien.

Kelebihan dari organ sintetik yang dikembangkan oleh ilmuwan dari Inggris ini adalah tidak memerlukan donor serta tak ada risiko penolakan dari tubuh pasien. Selain itu kerongkongan ini dibuat dalam waktu beberapa hari.

Para dokter bedah yang menangani pasien ini menyebutkan pasien mereka sudah kembali pulih sebulan pasca operasi. Operasi pionir ini dipimpin oleh Profesor Paolo Macchiarini dari Italia.

Dalam wawancara dengan BBC ia mengatakan kini adalah harapan teknik ini dipakai untuk merawat bayi usia 9 bulan di Korea yang terlahir dengan cacat kerongkonan atau trakea.

Macchiarani sudah dikenal dalam keahliannya melakukan 10 kali transplantasi kerongkongan. Salah satunya adalah pencangkokan jaringan trakeal yang direkayasa pertama di dunia pada tahun 2008. Tetapi seluruh transplantasi itu memerlukan donor.

Dalam teknik terbaru ini struktur atau penopang model adalah replika dari kerongkongan pasien sendiri yang dihilangkan untuk digantikan dengan organ donor.

Pembuatan organ artifisial ini dikerjakan dengan kolaborasi beberapa ahli, termasuk pembuatan gambar organ dalam bentuk tiga dimensi. Dengan gambar tersebut para ilmuwan dari University College London bisa membentuk tiruan yang sama persis dengan trakea pasien.

Kemudian tiruan tersebut dilapisi dengan sel punca yang diambil dari sumsum tulang pasien. Kerongkongan buatan itu kemudian dicangkokkan pada tubuh pasien yang kerongkongan aslinya hancur karena tumor yang tidak bisa dioperasi.

Akibat kemoterapi yang agresif dan radioterapi, kankernya telah membesar sebesar bola golf dan menutupi jalan napas. Tanpa transplantasi ini pasien bisa meninggal.

Dalam operasi yang berlangsung selama 12 jam, Macchiarini membersihkan seluruh tumor kemudian menggantinya dengan replika kerongkongan.

"Kami sangat bersyukur pada teknologi nano karena bisa menghasilkan pengobatan regeneratif. Memang ini kerongkongan sintetis tetapi dengan teknik ini kita tak perlu lagi bergantung pada organ donor," kata Macchiarini.

Penulis: AN Editor: Lusia Kus Anna Sumber : BBC

Jumat, 08 Juli 2011

Facial Bukan Solusi untuk Mengatasi Jerawat

sumber : kompas.com link: http://m.kompas.com/female/read/2011/07/08/1101518/facial-bukan-solusi-untuk-mengatasi-jerawat
KOMPAS.com - Bermasalah dengan wajah yang berjerawat? Begitu banyak produk telah Anda coba, namun jerawat masih saja kembali -bahkan semakin menjadi-jadi. Perawatan yang dilakukan oleh tenaga profesional mungkin akan banyak membantu menghilangkan jerawat. Tetapi, tentu Anda tidak ingin selamanya bergantung pada dokter kulit, bukan? Karenanya, Anda akan mencari berbagai trik perawatan sendiri yang bisa membantu mencegah dan mengatasi jerawat. Nah, sebelum mulai hunting untuk mencari produk atau jenis treatment yang tepat, ada baiknya Anda baca dulu yang berikut ini:

Facial bukanlah perawatan yang tepat untuk mencegah jerawat
Perawatan deep cleansing di salon bermanfaat untuk menghilangkan komedo, namun tidak dapat mengatasi jerawat. Demikian menurut Debra J. Wattenberg, MD, asisten profesor di bidang dermatologi dari Mount Sinai Medical School, New York City. Dengan kata lain, facial adalah jenis perawatan yang baik untuk relaksasi dan memanjakan kulit wajah, serta membersihkannya dari kotoran dan minyak berlebih. Namun, tidak dapat membersihkan wajah dari jerawat.
Wattenberg menyarankan Anda untuk mengandalkan obat jerawat yang dapat ditemukan di apotek retail. Sementara untuk jerawat yang sulit ditundukkan, ada baiknya memang Anda datang ke ahli kulit, sebab bila tidak ditangani dengan benar maka problemnya akan selalu kembali.

Perawatan untuk setiap orang bisa berbeda-beda
Bagi sebagian orang, jerawat bisa dihilangkan dengan minum obat dan produk khusus untuk membersihkan serta melembabkan kulit. Namun, bagi sebagian orang yang lain, perawatan yang terlalu banyak malah bisa membuat jerawat tumbuh semakin banyak. Demikian menurut ahli dermatologi Tess Mauricio, MD, dari Scripps Ranch Dermatology & Cosmetic Center di La Jolla, California. Jadi, jangan berinisiatif untuk mencoba obat jerawat yang diminum, apabila dokter tidak menganjurkannya.

Makanan juga berpengaruh pada jerawat
Menurut Lisa Drayer, RD, penulis The Beauty Diet: Looking Great Has Never Been So Delicious, beberapa jenis nutrisi dapat membantu mencegah jerawat, seperti vitamin C contohnya. "Ketika tubuh mengalami kesulitan dalam memproses makanan, salah satu solusi yang dilakukan adalah mendorongnya keluar melalui kulit Anda," tambah Joanna Vargas, konsultan perawatan kulit selebriti dan pemiliki Skin Care Sanctuary di New York City.
Makanan yang paling buruk untuk kulit adalah makanan yang diproses. Sementara, cara paling baik agar kulit selalu bersih dan merona sehat adalah dengan minum banyak air putih.

Hasil perawatan tidak tampak dalam semalam
Hanya karena Anda tidak melihat adanya efek langsung setelah melakukan perawatan, bukan berarti usaha Anda gagal total. Sebab, ada beberapa produk yang memang butuh waktu untuk bisa mengubah kondisi kulit.
"Biasanya saya menganjurkan pasien untuk menunggu sekitar 1 bulan, kemudian mulai mengamati perubahan yang terjadi. Semakin parah jerawat di wajah Anda, semakin lama waktu yang dibutuhkan," kata Dr Wattenberg.
Jika setelah 10-12 minggu hasil yang diharapkan tidak tampak, menurut Wattenberg barulah Anda dapat memastikan bahwa produk itu tidak bekerja dengan baik pada kulit Anda.
Penulis: K32-11Editor: DiniSumber : Womans Day

Selasa, 05 Juli 2011

4 Hal yang Bikin Program Latihan Gagal

sumber : kompas.com
KOMPAS.com - Setelah dengan susah-payah memulai latihan rutin di pusat kebugaran, akhirnya Anda mampu memberi komitmen penuh untuk menyehatkan tubuh. Tetapi, entah kenapa kok Anda tidak menemukan perubahan berarti pada tubuh setelah berolahraga. Bahkan bisa jadi malah jauh dari yang Anda harapkan. Nah, coba cari tahu apakah Anda telah melakukan salah satu dari empat kesalahan berikut ini:

1. Program diet yang sangat rendah kalori
Tidak mengimbangi program olahraga dengan asupan makanan bergizi bisa membuat semuanya gagal total. Apalagi jika Anda sampai mengurangi makan hingga kelaparan. Bukannya dapat membantu membakar lemak, tindakan ini malah membuat tubuh jadi kekurangan kalori untuk membentuk otot. Hindari pola diet yang sering dijanjikan bisa menurunkan berat badan lebih cepat. Tindakan yang lebih bijak adalah dengan beralih ke jenis makanan yang sehat seperti sayur-sayuran, yang akan membantu mendorong proses metabolisme sehingga lebih banyak lemak yang bisa dikikis.

2. Melakukan terlalu banyak repetisi
Saat memulai latihan beban, Anda akan dapat instruksi untuk melakukan sekitar 8-12 repetisi untuk setiap gerakan. Seringkali, karena ingin cepat kurus Anda malah menambah porsi hingga 20 repetisi. Padahal, Anda tidak ada rencana untuk ikut kejuaraan binaraga, bukan?

Sebaiknya, cobalah untuk mematuhi jumlah repetisi yang diberikan, karena sebenarnya jumlah repetisi sekitar 8-12 kali sudah cukup untuk mengencangkan otot dan mendorong metabolisme. Jika gerakan ini terasa terlalu mudah untuk Anda, tingkatkan faktor kesulitannya atau bebannya, bukan jumlah repetisinya.

3. Latihan terlalu berat dan diforsir
Menambah waktu latihan di luar yang dianjurkan oleh personal trainer bukanlah suatu "kreativitas" yang bisa diberikan pujian. Ini justru dapat meningkatkan risiko cedera dan menurunkan stamina Anda. Jika Anda memang memiliki target untuk terlihat lebih ramping dan cantik dalam waktu dua bulan, coba atur jadwal yang lebih realistis bersama pelatih profesional dan tepati jadwal itu. Dengan bantuan profesional, Anda akan dapat mencapai target dengan cara yang lebih aman.

4. Sering melanggar aturan diet
Mengatur pola makan hendaknya berasal dari keinginan Anda sendiri, agar Anda juga dapat mematuhinya dengan penuh kesadaran. Namun, terkadang memang ada saja godaan untuk melanggarnya. Dan bila Anda tiba-tiba saja kepingin makan junk food setelah sekian lama menjauhinya, coba periksa kembali menu harian Anda. Sebab, keinginan yang muncul tiba-tiba ini sebenarnya bisa menandakan tubuh Anda kekurangan beberapa elemen makan penting.
Pastikan hidangan harian Anda cukup mengandung lemak baik, protein, dan karbohidrat, sehingga tidak perlu mengudap snack berkarbohidrat tinggi yang nantinya akan membuat semua rencana yang telah dijalankan hancur berantakan. Ingat, rahasia diet dan olahraga yang sukses adalah konsistensi dan pantang menyerah!
Penulis: K32-11Editor: DiniSumber : New Zealand Fitness

Sabtu, 02 Juli 2011

Waspadai Diabetes pada Anak

sumber : KOMPAS.COM
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Jumat, 17 Juni 2011 | 09:51 WIB



KOMPAS.com - Penyakit diabetes pada anak-anak perlu semakin diwaspadai para orang tua. Data sebuah penelitian kecil menunjukkan, jumlah anak-anak penderita diabetes terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup.
Menurut data yang diungkap dr.Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah anak-anak penderita diabetes dalam kurun dua tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan terus naik. Meskipun data ini tidak mewakili secara nasional, tetapi angka kenaikannya perlu diwaspadai.
"Tahun 2011 ini, ada 65 anak diabetes yang tercatat, naik 400 persen dari tahun 2009. Dari jumlah itu, sebanyak 32 anak menderita diabetes melitus atau diabetes tipe dua," ungkap Aman pada acara konferensi pers 'Cermati Asupan Gula Berlebih pada Susu Anak' yang diadakan oleh Fonterra Brands Indonesia di Jakarta, Rabu (15/6/2011).
Aman menjelaskan, penyakit diabetes pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang buruk, adanya riwayat diabetes di keluarga, anak lahir dengan berat badan rendah, serta kegemukan (obesitas). 
Faktor kegemukan adalah poin yang perlu menjadi perhatian khusus, karena fenomena ini tengah menggejala di masyarakat.  Dr.Rini Sekartini, Sp.A (K), ahli tumbuh kembang anak dari FKUI yang melakukan penelitian pada 100 anak usia 3-6 tahun di tiga Taman Kanak-kanak (TK) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta menemukan, 20 persen anak TK mengalami obesitas dan 17,1 persen anak di PAUD obesitas.
Hal serupa juga terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, yang menunjukkan prevalensi obesitas di kalangan balita Indonesia terus meningkat.  Prevalensi kegemukan pada balita mengalami kenaikan dari 12,2 persen pada 2007 menjadi 14 persen pada 2010.
Tingginya asupan gula pada makanan anak-anak, kata Aman, menjadi faktor yang harus diwaspadai para orang tua. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak seharusnya tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi.
Artinya, berdasarkan angka kecukupan gizi Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun seharusnya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari atau setara dengan 5 sendok teh. Di usia 4-6 tahun jumlahnya tidak melebihi 38 gram atau sekitar 8 sendok teh.
Asupan gula terbanyak yang dikonsumsi anak adalah sukrosa yang mencapai 49,5 gram dan terbanyak berasal dari konsumsi susu formula. "Prosentase ini sudah melebih ambang batas yang direkomendasi WHO," tutur Aman.
Untuk mencegah obesitas pada anak, dr.Aman menganjurkan agar para orangtua mengembalikan pola makan anak yang benar. "Untuk tumbuh kembang anak butuh 1.600 kalori setiap harinya yang dibagi dalam 3 kali makan dan 2 kali snack. Minum susu secukupnya saja dan tingkatkan aktivitas fisik anak," tegas dr.Aman.
Risiko susu formula
Sementara itu penelitian di luar negeri menunjukkan, pemberian susu formula pada anak juga dapat diperhitungan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi risiko diabetes. Hal itu diungkapkan lewat penelitian awal Dr.Mikael Knip dari Universitas Helsinki dan dipublikasikan dalam American Journal for Clinical Nutrition.
Dalam suatu riset di kalangan bayi dengan genotipe HLA, gen yang membuat seseorang berisiko tinggi menderita diabetes, penggunaan susu formula yang mengandung protein susu sapi dapat meningkatkan risiko. Bayi yang beralih dari ASI ke susu formula atau makanan bayi terlalu cepat dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 1 di usia 10 tahun.
Sementara itu, bayi yang mengalami transisi dari ASI ke susu yang terhidrolisasi tinggi  - sehingga mudah dipecah dan dicerna -  memiliki risiko diabetes lebih rendah. Di usia 5 tahun, risikonya terkena diabetes bahkan berkurang hingga 50 persen. Penelitian yang masih berlangsung ini dilakukan di 77 pusat penelitian di 15 negara.

Waspadai Diabetes pada Anak

sumber : KOMPAS.COM
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Jumat, 17 Juni 2011 | 09:51 WIB



KOMPAS.com - Penyakit diabetes pada anak-anak perlu semakin diwaspadai para orang tua. Data sebuah penelitian kecil menunjukkan, jumlah anak-anak penderita diabetes terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup.
Menurut data yang diungkap dr.Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah anak-anak penderita diabetes dalam kurun dua tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan terus naik. Meskipun data ini tidak mewakili secara nasional, tetapi angka kenaikannya perlu diwaspadai.
"Tahun 2011 ini, ada 65 anak diabetes yang tercatat, naik 400 persen dari tahun 2009. Dari jumlah itu, sebanyak 32 anak menderita diabetes melitus atau diabetes tipe dua," ungkap Aman pada acara konferensi pers 'Cermati Asupan Gula Berlebih pada Susu Anak' yang diadakan oleh Fonterra Brands Indonesia di Jakarta, Rabu (15/6/2011).
Aman menjelaskan, penyakit diabetes pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang buruk, adanya riwayat diabetes di keluarga, anak lahir dengan berat badan rendah, serta kegemukan (obesitas). 
Faktor kegemukan adalah poin yang perlu menjadi perhatian khusus, karena fenomena ini tengah menggejala di masyarakat.  Dr.Rini Sekartini, Sp.A (K), ahli tumbuh kembang anak dari FKUI yang melakukan penelitian pada 100 anak usia 3-6 tahun di tiga Taman Kanak-kanak (TK) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta menemukan, 20 persen anak TK mengalami obesitas dan 17,1 persen anak di PAUD obesitas.
Hal serupa juga terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, yang menunjukkan prevalensi obesitas di kalangan balita Indonesia terus meningkat.  Prevalensi kegemukan pada balita mengalami kenaikan dari 12,2 persen pada 2007 menjadi 14 persen pada 2010.
Tingginya asupan gula pada makanan anak-anak, kata Aman, menjadi faktor yang harus diwaspadai para orang tua. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak seharusnya tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi.
Artinya, berdasarkan angka kecukupan gizi Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun seharusnya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari atau setara dengan 5 sendok teh. Di usia 4-6 tahun jumlahnya tidak melebihi 38 gram atau sekitar 8 sendok teh.
Asupan gula terbanyak yang dikonsumsi anak adalah sukrosa yang mencapai 49,5 gram dan terbanyak berasal dari konsumsi susu formula. "Prosentase ini sudah melebih ambang batas yang direkomendasi WHO," tutur Aman.
Untuk mencegah obesitas pada anak, dr.Aman menganjurkan agar para orangtua mengembalikan pola makan anak yang benar. "Untuk tumbuh kembang anak butuh 1.600 kalori setiap harinya yang dibagi dalam 3 kali makan dan 2 kali snack. Minum susu secukupnya saja dan tingkatkan aktivitas fisik anak," tegas dr.Aman.
Risiko susu formula
Sementara itu penelitian di luar negeri menunjukkan, pemberian susu formula pada anak juga dapat diperhitungan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi risiko diabetes. Hal itu diungkapkan lewat penelitian awal Dr.Mikael Knip dari Universitas Helsinki dan dipublikasikan dalam American Journal for Clinical Nutrition.
Dalam suatu riset di kalangan bayi dengan genotipe HLA, gen yang membuat seseorang berisiko tinggi menderita diabetes, penggunaan susu formula yang mengandung protein susu sapi dapat meningkatkan risiko. Bayi yang beralih dari ASI ke susu formula atau makanan bayi terlalu cepat dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 1 di usia 10 tahun.
Sementara itu, bayi yang mengalami transisi dari ASI ke susu yang terhidrolisasi tinggi  - sehingga mudah dipecah dan dicerna -  memiliki risiko diabetes lebih rendah. Di usia 5 tahun, risikonya terkena diabetes bahkan berkurang hingga 50 persen. Penelitian yang masih berlangsung ini dilakukan di 77 pusat penelitian di 15 negara.

Waspadai Diabetes pada Anak

sumber : KOMPAS.COM
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Jumat, 17 Juni 2011 | 09:51 WIB



KOMPAS.com - Penyakit diabetes pada anak-anak perlu semakin diwaspadai para orang tua. Data sebuah penelitian kecil menunjukkan, jumlah anak-anak penderita diabetes terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup.
Menurut data yang diungkap dr.Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah anak-anak penderita diabetes dalam kurun dua tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan terus naik. Meskipun data ini tidak mewakili secara nasional, tetapi angka kenaikannya perlu diwaspadai.
"Tahun 2011 ini, ada 65 anak diabetes yang tercatat, naik 400 persen dari tahun 2009. Dari jumlah itu, sebanyak 32 anak menderita diabetes melitus atau diabetes tipe dua," ungkap Aman pada acara konferensi pers 'Cermati Asupan Gula Berlebih pada Susu Anak' yang diadakan oleh Fonterra Brands Indonesia di Jakarta, Rabu (15/6/2011).
Aman menjelaskan, penyakit diabetes pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang buruk, adanya riwayat diabetes di keluarga, anak lahir dengan berat badan rendah, serta kegemukan (obesitas). 
Faktor kegemukan adalah poin yang perlu menjadi perhatian khusus, karena fenomena ini tengah menggejala di masyarakat.  Dr.Rini Sekartini, Sp.A (K), ahli tumbuh kembang anak dari FKUI yang melakukan penelitian pada 100 anak usia 3-6 tahun di tiga Taman Kanak-kanak (TK) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta menemukan, 20 persen anak TK mengalami obesitas dan 17,1 persen anak di PAUD obesitas.
Hal serupa juga terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, yang menunjukkan prevalensi obesitas di kalangan balita Indonesia terus meningkat.  Prevalensi kegemukan pada balita mengalami kenaikan dari 12,2 persen pada 2007 menjadi 14 persen pada 2010.
Tingginya asupan gula pada makanan anak-anak, kata Aman, menjadi faktor yang harus diwaspadai para orang tua. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak seharusnya tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi.
Artinya, berdasarkan angka kecukupan gizi Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun seharusnya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari atau setara dengan 5 sendok teh. Di usia 4-6 tahun jumlahnya tidak melebihi 38 gram atau sekitar 8 sendok teh.
Asupan gula terbanyak yang dikonsumsi anak adalah sukrosa yang mencapai 49,5 gram dan terbanyak berasal dari konsumsi susu formula. "Prosentase ini sudah melebih ambang batas yang direkomendasi WHO," tutur Aman.
Untuk mencegah obesitas pada anak, dr.Aman menganjurkan agar para orangtua mengembalikan pola makan anak yang benar. "Untuk tumbuh kembang anak butuh 1.600 kalori setiap harinya yang dibagi dalam 3 kali makan dan 2 kali snack. Minum susu secukupnya saja dan tingkatkan aktivitas fisik anak," tegas dr.Aman.
Risiko susu formula
Sementara itu penelitian di luar negeri menunjukkan, pemberian susu formula pada anak juga dapat diperhitungan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi risiko diabetes. Hal itu diungkapkan lewat penelitian awal Dr.Mikael Knip dari Universitas Helsinki dan dipublikasikan dalam American Journal for Clinical Nutrition.
Dalam suatu riset di kalangan bayi dengan genotipe HLA, gen yang membuat seseorang berisiko tinggi menderita diabetes, penggunaan susu formula yang mengandung protein susu sapi dapat meningkatkan risiko. Bayi yang beralih dari ASI ke susu formula atau makanan bayi terlalu cepat dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 1 di usia 10 tahun.
Sementara itu, bayi yang mengalami transisi dari ASI ke susu yang terhidrolisasi tinggi  - sehingga mudah dipecah dan dicerna -  memiliki risiko diabetes lebih rendah. Di usia 5 tahun, risikonya terkena diabetes bahkan berkurang hingga 50 persen. Penelitian yang masih berlangsung ini dilakukan di 77 pusat penelitian di 15 negara.

Waspadai Diabetes pada Anak

sumber : KOMPAS.COM
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Jumat, 17 Juni 2011 | 09:51 WIB



KOMPAS.com - Penyakit diabetes pada anak-anak perlu semakin diwaspadai para orang tua. Data sebuah penelitian kecil menunjukkan, jumlah anak-anak penderita diabetes terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup.
Menurut data yang diungkap dr.Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah anak-anak penderita diabetes dalam kurun dua tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan terus naik. Meskipun data ini tidak mewakili secara nasional, tetapi angka kenaikannya perlu diwaspadai.
"Tahun 2011 ini, ada 65 anak diabetes yang tercatat, naik 400 persen dari tahun 2009. Dari jumlah itu, sebanyak 32 anak menderita diabetes melitus atau diabetes tipe dua," ungkap Aman pada acara konferensi pers 'Cermati Asupan Gula Berlebih pada Susu Anak' yang diadakan oleh Fonterra Brands Indonesia di Jakarta, Rabu (15/6/2011).
Aman menjelaskan, penyakit diabetes pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang buruk, adanya riwayat diabetes di keluarga, anak lahir dengan berat badan rendah, serta kegemukan (obesitas). 
Faktor kegemukan adalah poin yang perlu menjadi perhatian khusus, karena fenomena ini tengah menggejala di masyarakat.  Dr.Rini Sekartini, Sp.A (K), ahli tumbuh kembang anak dari FKUI yang melakukan penelitian pada 100 anak usia 3-6 tahun di tiga Taman Kanak-kanak (TK) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta menemukan, 20 persen anak TK mengalami obesitas dan 17,1 persen anak di PAUD obesitas.
Hal serupa juga terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, yang menunjukkan prevalensi obesitas di kalangan balita Indonesia terus meningkat.  Prevalensi kegemukan pada balita mengalami kenaikan dari 12,2 persen pada 2007 menjadi 14 persen pada 2010.
Tingginya asupan gula pada makanan anak-anak, kata Aman, menjadi faktor yang harus diwaspadai para orang tua. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak seharusnya tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi.
Artinya, berdasarkan angka kecukupan gizi Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun seharusnya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari atau setara dengan 5 sendok teh. Di usia 4-6 tahun jumlahnya tidak melebihi 38 gram atau sekitar 8 sendok teh.
Asupan gula terbanyak yang dikonsumsi anak adalah sukrosa yang mencapai 49,5 gram dan terbanyak berasal dari konsumsi susu formula. "Prosentase ini sudah melebih ambang batas yang direkomendasi WHO," tutur Aman.
Untuk mencegah obesitas pada anak, dr.Aman menganjurkan agar para orangtua mengembalikan pola makan anak yang benar. "Untuk tumbuh kembang anak butuh 1.600 kalori setiap harinya yang dibagi dalam 3 kali makan dan 2 kali snack. Minum susu secukupnya saja dan tingkatkan aktivitas fisik anak," tegas dr.Aman.
Risiko susu formula
Sementara itu penelitian di luar negeri menunjukkan, pemberian susu formula pada anak juga dapat diperhitungan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi risiko diabetes. Hal itu diungkapkan lewat penelitian awal Dr.Mikael Knip dari Universitas Helsinki dan dipublikasikan dalam American Journal for Clinical Nutrition.
Dalam suatu riset di kalangan bayi dengan genotipe HLA, gen yang membuat seseorang berisiko tinggi menderita diabetes, penggunaan susu formula yang mengandung protein susu sapi dapat meningkatkan risiko. Bayi yang beralih dari ASI ke susu formula atau makanan bayi terlalu cepat dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 1 di usia 10 tahun.
Sementara itu, bayi yang mengalami transisi dari ASI ke susu yang terhidrolisasi tinggi  - sehingga mudah dipecah dan dicerna -  memiliki risiko diabetes lebih rendah. Di usia 5 tahun, risikonya terkena diabetes bahkan berkurang hingga 50 persen. Penelitian yang masih berlangsung ini dilakukan di 77 pusat penelitian di 15 negara.

Diabetes Bukan karena Kebanyakan Gula

sumber : KOMPAS.com ---Lusia Kus Anna | Senin, 27 Juni 2011 | 15:50 WIB


Kompas.com - Dunia sedang menghadapi ledakan penderita diabetes. Data paling baru menyebutkan angkanya mencapai 350 juta orang di seluruh dunia, jauh melebihi prediksi Federasi Diabetes International (IDF) yang memproyeksikan tahun 2010 ada 285 juta penduduk dunia yang akan menjadi korban penyakit yang bisa merenggut penglihatan, bahkan kematian ini.
Walaupun para ahli sepakat diabetes merupakan masalah kesehatan terbesar di abad 21, nyatanya masih banyak orang yang angkat bahu ketika ditanya tentang kemungkinan menderita penyakit ini. Selain karena gejalanya memang tidak terlihat, tak sedikit yang masih mengira penyakit ini disebabkan karena mengasup makanan manis terlalu banyak.
Padahal, menurut dr.Budiman Darmowidjojo, Sp.PD, diabetes melitus tidak berhubungan dengan kebanyakan makan gula. Seseorang didiagnosis diabetes ketika tubuhnya tidak cukup menghasilkan insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. "Tidak benar jika penyakit ini timbul karena kebanyakan makan makanan manis," katanya.
Faktor yang menyebabkan tingginya jumlah penderita adalah karena perubahan pola makan menjadi tinggi lemak dan kurangnya aktivitas fisik.  Keterkaitan penyakit ini dengan gula mungkin berpangkal dari kenyataan penderita diabetes harus membatasi asupan gula mereka.
"Yang harus dibatasi sebenarnya bukan hanya gula, tetapi total kalori karena sebagian besar yang kita makan untuk dijadikan energi akan diubah menjadi glukosa. Pada penderita diabetes, pola makan yang tidak terkontrol akan meningkatkan kadar glukosa," papar dokter dari Divisi Endokrinologi dan Metabolisme Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta.
Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan insulin yang dihasilkan oleh sel B pankreas untuk membuka reseptor sel sehingga glukosa bisa masuk. Akan tetapi pada orang yang menderita diabetes, terjadi resistensi insulin sehingga gula darah tidak dapat masuk.
Gula yang berlebih ini terkumpul dalam aliran darah dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan komplikasi. "Sebenarnya yang berbahaya bukan gula darah yang tinggi, tetapi komplikasi yang ditimbulkannya," imbuhnya.
Komplikasi
Diabetes merupakan penyakit yang menyerang diam-diam namun pada akhirnya akan menjadi bencana. Penyakit yang makin umum ditemui ini setiap tahunnya membunuh tiga juta orang di seluruh dunia.
Menurut dr.Budiman, penyebab kematian pasien diabetes sebenarnya bukan karena penyakit itu sendiri tetapi komplikasinya. "Hampir 40 persen meninggal karena penyakit jantung, sisanya karena gagal ginjal, stroke, atau kanker," papar ketua Jakarta Diabetes Meeting yang akan diadakan November 2011 mendatang ini.
Komplikasi yang mungkin ditimbulkan oleh diabetes ada yang akut, seperti hipoglikemi (gula darah terlalu rendah) atau hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), atau komplikasi kronik.
"Komplikasi kronik sendiri ada yang memengaruhi pembuluh darah besar seperti penyakit jantung koroner atau stroke, atau yang memengaruhi pembuluh darah kecil sehingga pasien menderita gangguan saraf, ginjal, impotensi, atau kebutaan," paparnya.
Kadar gula darah yang tinggi, terang Budiman, juga akan mengganggu sistem hormonal sehingga kadar hormon tertentu meningkat yang berujung pada naiknya tekanan darah. "Sekitar 60-80 persen pasien diabetes menderita hipertensi," katanya.
Karena itulah sangat penting untuk memeriksakan gula darah guna mawaspadai naiknya kadar gula darah, terutama jika dalam riwayat keluarga ada yang menderita penyakit ini, usia Anda melebihi 40 tahun, menderita kegemukan atau menunjukkan gejala-gejala penyakit ini.
Perbaiki pola makan
Salah satu cara untuk menghindari diabetes adalah dengan menjaga berat badan tetap normal, melakukan olahraga secara teratur, dan memperbaiki pola makan. Ini berarti makan dengan pola makan sehat yang terfokus pada buah-buahan dan sayuran.
Penelitian menunjukkan untuk setiap kelebihan 40 gram lemak yang Anda makan dalam sehari, risiko untuk menderita diabetes meningkat tiga kali lipat. Dan bila Anda sudah menderita diabetes, Anda berpeluang besar mengalami komplikasi.
"Hal ini terjadi karena lemak tubuh membuat sel-sel menolak insulin," kata Frank Q.Nittal, M.D, dalam laporan yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology.
Sementara itu penderita diabetes disarankan untuk makan setiap empat atau lima jam dalam porsi kecil. "Yang penting adalah mengatur kalori total," kata Budiman. Kendati demikian penderita diabetes tetap disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi gula. Kebutuhan akan makanan yang manis ini bisa dipuaskan dengan pemanis buatan rendah kalori.
Saat ini belum ada obat untuk mengobati diabetes. Itu sebabnya sayangi diri Anda dengan menjaga gaya hidup yang sehat, yang meliputi pola makan, olahraga, istirahat, serta menghindari stres. Pada penderita diabetes pun gaya hidup yang sehat dapat menjaga gula darah tetap stabil sehingga penyakit ini bisa dikendalikan.